Unika Santu paulus ruteng

Prodi PG PAUD Adakan Seminar Ilmiah Dosen

Foto: Tangkapan Layar Pelaksanaan Seminar Ilmiah Dosen Prodi PG-PAUD Unika Santu Paulus Ruteng secara Virtual, Sabtu (27/2/2021)

Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak usia Dini (Prodi PG PAUD), Universitas Katolik Indonesia (Unika) St. Paulus Ruteng mengadakan Seminar Ilmiah Dosen dengan tema “Pembelajaran Anak Usia Dini pada Masa Pandemi Covid-19”. Kegiatan seminar pada Sabtu (27/02/2021) dilakukan melalui platform media zoom meeting dan live streaming di YouTube PG PAUD Unika St. Paulus Ruteng. Seminar yang diikuti oleh dosen dan mahasiswa Prodi PG-PAUD itu berlangsung dari pukul 08.00 hingga pukul 12.00 Wita.

Kegiatan seminar dibuka secara resmi oleh Ketua Prodi PG PAUD, Fransiskus De Gomes, S. Fil., M.Pd. Pada kesempatan ini, De Gomes juga menyampaikan ucapan terima kasih atas kesediaan  para dosen untuk menjadi pemateri dalam Seminar Ilmiah Dosen Prodi PG PAUD.

Selanjutnya, Petrus Redy Partus Jaya, S. Fil., M.Pd., yang bertindak sebagai moderator seminar mengenalkan empat pemateri. Pemateri pertama, Beata Palmin, M.Pd. dengan judul makalah “Penanaman Karakter Resilient Sejak Dini.” Pemateri kedua, Gervasius Adam, M.Or. menyampaikan “Panduan bagi Orangtua untuk Stimulasi Perkembangan AUD melalui Permainan selama Masa Pandemi Covid-19”. Pemateri ketiga Felisitas Ndeot, M.Pd. mengangkat judul “Deschooling and Learning Loss di Masa Pandemi Covid-19”, dan Ignasius .R. Bora, S. Fil., M.A. membahas “Kesehatan Mental AUD dan Kekerasan dalam Keluarga selama Masa Pandemi”.

Beata, melalui materinya menekankan pentingnya penanaman karakter resilient sejak dini. Penanaman karakter resilient merupakan upaya yang dilakukan untuk mempersiapkan anak menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan di masa depan (future ready child). “Penanaman karakter resilient dapat dilakukan dengan pemberian pengalaman yang bermakna (purposeful exposure) pada kegiatan main yang dilakukan anak. Karakter yang perlu dikembangkan agar anak menjadi pribadi yang resilient seperti adaptif, berani, mandiri, gigih dan banyak akal. Karakter adaptif merupakan kemampuan untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi sekitarnya, termasuk dengan berbagai perubahan yang terjadi. Berani, berarti mampu mengalahkan rasa takut dan khawatir dan siap menghadapi tantangan. Mandiri, berarti bisa mengandalkan diri sendiri tanpa harus bergantung pada bantuan yang diberikan orang lain. Gigih, mampu untuk tekun dan teguh pada pendiriannya serta berusaha melakukan sesuatu secara tuntas. Terakhir, banyak akal. Individu yang resilient tentu pandai dalam mencari solusi untuk setiap tantangan yang dihadapi”, urai Beata.

Selanjutnya, Gervasius menyampaikan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Bagi anak, bermain adalah aktivitas yang menggembirakan, menyenangkan dan menimbulkan kenikmatan. “Pentingnya permainan bagi anak mengharuskan orangtua dapat menyiapkan ruang dan waktu bagi anak untuk bermain. Beberapa jenis permainan bagi anak selama pembelajaran di rumah yang ditawarkan oleh Gervasius dalam tulisannya, seperti: Berhitung Lubang, Menebak Gambar Hewan, Telepon-Teleponan, Menendang Balon, Bermain Plastisin, Memancing Harta Karun, Gerbong Rantai Menggunakan Tangga Kelincahan, dan Perang-Perangan. Hendaknya orangtua dapat berperan sebagai pendamping atau ’teman’ bermain yang baik bagi anak, yaitu sebagai fasilitator, inovator dan motivator sehingga dapat mengarahkan kegiatan bermain yang kondusif dan edukatif,” jelas dosen olahraga itu.

Pemateri ketiga, Felisitas Ndeot, M.Pd. menyatakan konsep deschooling dapat diadaptasi ke dalam sistem pendidikan di Indonesia agar risiko anak mengalami  learning loss dapat dihindari. Selain itu, sistem belajar di persekolahan yang mengharuskan anak belajar di sekolah perlahan-lahan diubah menjadi sistem pendidikan yang lebih membebaskan siswa untuk belajar. “Sistem pendidikan dimulai dari konteks kehidupan masyarakat yang paling dekat dan menggali potensi sumber daya alam yang ada, jika lingkungan para siswa adalah perkebunan atau persawahan, dapat belajar melalui pertanian dengan menggunaan prinsip integratif. Seluruh elemen masyarakat bersama-sama dengan praktisi pendidikan menentukan setiap materi yang akan diberikan. Dengan demikian, bukan hanya siswa yang belajar tetapi semua orang boleh belajar. Selain itu, guru maupun calon guru PAUD sebainya mulai bersiap-siap menghadapi era baru dalam dunia pendidikan dengan terus meningkatkan kreativitas agar tidak kalah bersaing dengan yang lainnya,” jelas Felisia

Romo Pepy Bora, sebagai pemateri terakhir melihat dampak pandemik covid-19 bagi kesehatan mental anak dan maraknya kekerasan yang dialami anak. Beliau mengatakan, “Pandemik ini berdampak besar pada anak-anak dengan kebutuhan mereka akan mental yang sehat. Kebijakan study from home dan stay at home selama COVID-19 turut membahayakan kesehatan, aspek sosial, dan kesejahteraan materi anak-anak pada berbagai tingkatan usia. Anak-anak mudah terpapar pada kekerasan dalam rumah tangga,”ujar dosen psikologi itu. Mengutip apa yang disampaikan oleh Save the Children Indonesia, alumnus dari Filipana itu menyatakan bahwa disinyalir satu dari tujuh risiko yang dihadapi anak dan keluarga sebagai akibat dari pandemi COVID-19 yaitu rentannya anak-anak pada kekerasan dan eksploitasi, yang mengakibatkan gangguan Kesehatan Mental selama masa pandemik. “Oleh karena itu, keluarga atau orang tua, pemerintah, institusi pendidikan, guru dan masyarakat dituntut untuk berperan secara maksimal dalam mengurangi tindak kekerasan pada anak,” pungkasnya. (Cont/Adm: AA/RN)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

x

Check Also

Unika Santu Paulus Ruteng Mewisuda 608 Lulusan Sarjana dan Ahli Madya

Ruteng, Unika Santu Paulus – Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng menyelenggarakan acara puncak ...