Unika Santu paulus ruteng

Seminar Nasional FKIP Unika Ruteng: Narasumber Ungkap Perspektif Menarik dalam Memahami Hak Asasi Manusia

Ruteng, Unika Santu Paulus – Dalam Seminar Nasional bertajuk “HAM dalam Perspektif Ilmu Filsafat dan Sosial,” dua narasumber utama, Prof. Dr. Fransisco Budi Hardiman dan Dr. Maksimus Regus, menghadirkan pandangan yang mendalam dan menarik melalui makalah-makalah mereka.

Prof. Hardiman, dengan judul makalah “Problem Universalitas HAM: Perspektif Barat, Islam, dan Teori Diskursus Habermas,” membuka diskusi dengan menyentuh isu-isu kontemporer yang semakin kompleks. Dari legalisasi aborsi hingga perkawinan sesama jenis, ia merinci bagaimana perkembangan kesadaran moral mendorong kompleksitas permasalahan ini. Ia menyoroti paradoks bahwa meskipun HAM dianggap universal, formulasi dan implementasinya seringkali baru muncul setelah negara terbentuk.

Untuk menyelesaikan problematika universalitas HAM, Prof Hardiman mengajukan tiga solusi, yaitu solusi liberal, solusi komunitarian, dan solusi etika diskursus Habermas. Di antara ketiga solusi ini, Guru Besar Filsafat Universitas Pelita Harapan itu menitikberatkan dan mengelaborasi yang solusi ketiga, yakni etika diskursus. Menurutnya, solusi ketiga ini lebih fair dari dua lainnya.

“Etika diskursus bukan doktrin moral tertentu, melainkan prosedur ang fair untuk mencapai konsensus moral yang dapat diterima secara universal. Prosedur itu fair, jika menjamin kesetaraan dan otonomi para pihak yang berkomunikasi untuk menghasilkan norma,” urainya.

Sementara itu, Dr. Maksimus Regus membawa pendekatan yang unik dengan makalahnya berjudul “Budaya HAM di Indonesia.” Dalam presentasinya, ia menekankan bahwa diskusi tentang HAM selalu berada dalam ketegangan antara fiksi dan pengalaman faktual, terutama berkaitan dengan trauma kemanusiaan yang muncul akibat perang dunia.

Kedua narasumber memberikan pemahaman mendalam tentang kompleksitas HAM dari perspektif berbeda. Prof. Hardiman mengajak untuk merenung tentang hubungan HAM dengan perkembangan moral masyarakat, sementara Dr. Maksimus menyoroti keseimbangan yang sulit dijaga antara idealisme dan realitas budaya di Indonesia.

Seminar ini memberikan wawasan yang mendalam dan merangsang pikiran, menciptakan ruang diskusi yang kaya dan memikat. Dengan demikian, para peserta diharapkan dapat membawa pulang pemahaman yang lebih luas tentang peran filsafat dan realitas budaya dalam melihat Hak Asasi Manusia di Indonesia dan dunia.

x

Check Also

Jelang Liburan Nataru, Rektor Unika Ruteng Sampaikan Pesan Natal Tahun 2023

Ruteng, Unika Santu Paulus – Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng menyampaikan Pesan ...