Unika Santu paulus ruteng

Seminar Nasional Linguistik dan Linguistik Terapan di Kampus Unika Santu Paulus Ruteng

Foto: Para pemateri dan moderator dalam Semnas di GUT Lt 5 Unika St Paulus Ruteng, Jumat (6/3/2020). (Ket: Foto Dok. Pribadi Rm Bone Rampung)

Linguistik dan linguistik terapan merupakan topik bedah dalam seminar nasional yang berlangsung di aula Gedung Utama Lantai 5 Kampus Unika Santu Paulus Ruteng, Jumat (6/3/2020). Seminar Nasonal ini diselenggarakan dalam rangka kerja sama antara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana Denpasar (Unud). Sebagaimana dirilis sebelumnya, FKIP Unika Santu Paulus Ruteng telah menjalin kerja sama dengan FIB Unud Denpasar dalam bidang pendidikan, penelitian, penguatan sumber daya manusia dan pengembangan masyarakat, yang ditandai dengan penandatangan Memorandum of Agreement (MoA) oleh Dekan FKIP Unika Santu Paulus dan Dekan FIB Unud Denpasar.

Seminar nasional ini menghadirkan tiga pembicara, yakni Guru Besar Ilmu Linguistik Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A., dosen BIPA Unud Dr. Ni Made Dhanawati, M.S., dan dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unika Santu Paulus Dr Sebastianus Menggo, M.Pd. Hadir dalam seminar nasional ini ialah para dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) dan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) serta para mahasiswa dari kedua Prodi di bawah naungan FKIP Unika Santu Paulus Ruteng.

Baca juga: FKIP Unika Santu Paulus Ruteng Jalin Kerja Sama dengan FIB Udayana Denpasar

Prof. Artawa dalam paparan materinya mengangkat bidang Lanskap Linguistik (Linguistic Landscape), suatu telaah dalam linguistik yang berfokus pada teks-teks yang berjejer pada ruang publik sebagai performansi aktivitas sosial dan budaya. Guru besar Ilmu Linguistik ini menegaskan bahwa bidang ini menjadikan konteks sosial dan budaya sebagai “teks luar” yang dapat memungkinan penelaah bahasa dapat mengungkap praktik-praktik berbahasa di ruang publik. Lanskap Linguistik, menurutnya, tidak lepas dari lintas disiplin lain seperti Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, Politik, dan lain-lain; juga mesti terikat dengan interdsipliner linguistik yang lain seperti Semiotika, Sosiolinguistik, Ekologi Bahasa, dan lain-lain.

Dalam penelitiannya mengenai kasus penggunaan bahasa Bali di ruang publik, sebuah studi kasus di Desa Kuta, Denpasar, Bali, antara lain, ditemukannya bahwa bahasa Bali murni mengacu pada semua tanda yang menggunakan Bahasa Bali dalam aksara Bali. Tanda-tanda itu adalah tanda-tanda candi dan pemakaman sebagai identitas lokal yang vital di desa Kuta, sementara kombinasi bahasa Bali dengan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris mengacu pada tanda-tanda yang menggunakan Bahasa Bali dengan skrip Latin atau Bahasa Indonesia / Bahasa Inggris dengan transkripsi Skrip Bali. Menurut Prof Artawa, intervensi pihak berwenang dalam mempromosikan dan melestarikan identitas lokal dengan penegakan hukum (peraturan) sangat efektif. Hal itu dibuktikan dengan penggunaan aksara Bali di ruang publik terutama pada tanda-tanda komersial yang meningkat secara signifikan.

Pembelajaran Bahasa Abad ke-21

Pembelajaran bahasa merupakan bidang Linguistik Terapan (Applied Linguistic). Persoalan mengenai pembelajaran bahasa, menurut Dr. Ni Made Dhanawati, M.S., dosen BIPA FIB Unud Denpasar, senantiasa terkait dengan aspek pengetahuan bahasa dan aspek keterampilan berbahasa. Menurutnya, paradigma pembelajaran BIPA pada beberapa dekade lalu telah tertinggal lantaran para pembelajar BIPA pada era ini lebih mengandalkan sarana komunikasi. Jika dulu orang asing belajar bahasa Indonesia langsung pada gurunya atau di dalam ruang kelas, maka kini mereka cukup memanfaatkan smartphone atau internet. Justru itu, saat ini program pembelajaran bahasa Indonesia bagi orang asing berorientasi pada keterampilan abad ke-21, antara lain, lebih menekankan keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti berpikir kritis dan berpikir seni.

Menurut Dr. Ni Made Dhanawati, M.S., pengajaran BIPA sekaligus merupakan peluang untuk mempromosikan budaya Nusantara, termasuk bahasa dan seni serta mempelajari budaya orang lain sehingga hal itu dapat meningkatkan daya saing. Oleh karena itu, tahapan pembelajaran BIPA  senantiasa menimang jenjang, kompetensi, tema, tatabahasa, dan kosakata.

Foto: Peserta Seminar Nasional saat menyimak pemaparan materi dari para nara sumber, Jumat (6/3/2020) (Ket: Foto Dok. Pribadi Rm. Bone Rampung)

Sementara itu, Dr. Sebastianus Menggo, M. Pd., dalam penyampaian materinya menguraikan bahwa tuntutan capaian pembelajaran bahasa mesti mendorong peserta didik sebagai calon tenaga kerja yang nantinya dapat bersaing dengan tenaga kerja asing dalam dan luar negeri. Doktor lulusan FIB Unud ini menegaskan, “Dalam rangka menyiapkan peserta didik untuk dapat menghadapi era MEA, AFTA, ataupun Global, pendidikan abad ke-21 harus berorientasi pada model-model pembelajaran bahasa yang berisi kegiatan-kegiatan yang menantang peserta didik  untuk  mampu berpikir kritis, literal, dan sistemis, terutama dalam konteks pemecahan masalah, berkomunikasi, dan berkolaborasi secara efektif”.

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Unika Santu Paulus Ruteng itu lebih lanjut menegaskan bahwa aktivitas pembelajaran dalam pembelajaran bahasa pada era ini mesti disusun secara sistematis, kontekstual, merangsang interaksi para peserta didik, serta menawarkan kesempatan untuk menggunakan bahasa secara terintegrasi. “Pembelajaran bahasa, karena itu, harus menggunakan bahasa yang autentik, mengakomodasi keinginan dan kebutuhan peserta didik akan pengetahuan dan keterampilan bahasa, sumber pengetahuan bahasa, dan merangsang ide yang relevan dalam memulai aktivitas guna mendukung ketercapaian hasil belajar bahasa peserta didik secara maksimal,” urainya.  

Seminar nasional ini dimoderatori Thobias Gunas, M. Pd., dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, Unika Santu Paulus. Uraian materi dari para pemateri mengundang perhatian dan pertanyaan-pertanyaan kritis dari para peserta seminar, karena di dalamnya terpapar banyak hal baru seperti “lanskap linguistik”, model pembelajaran BIPA, dan lain-lain. Usai seminar, pihak Unud melakukan sosialisasi mengenai Program Pascasarjana Unud. Kegiatan sosialisasi Program Pascasarjana Unud ini dimoderatori Dr. Sebastianus Menggo, M.Pd. Kegiatan sosialisasi bertujuan untuk memperkenalkan Unud kepada para mahasiswa dan dosen Unika Santu Paulus Ruteng. (Cont/Adm: AN/RN)*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Prodi PBSI Unika Santu Paulus Jalin Kerja Sama Pengembangan Tri Dharma PT dengan Yayasan Klub Buku Baca Petra

Foto: Pengurus Yayasan Buku Baca Petra bersama Keprodi, Sekprodi dan Dosen Prodi PBSI Unika Santu ...