Unika Santu paulus ruteng

Unika Santu Paulus Ruteng: Sosial Ekonomi Pertanian Harus Menjadi Prodi yang Berkarakter

Unika Santu Paulus Ruteng– Dalam rangka mematangkan kurikulum yang ada, prodi Sosial Ekonomi Pertanian (SEP) Unika St. Paulus Ruteng menyelenggarakan Lokakarya kurikulum selama tiga hari sejak Kamis (17/10/2019) hingga Sabtu (19/10/2019). Lokarya ini dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu kesehatan dan Pertanian (FIKP) Pater David Djerubu, M.A. Dalam sambutan pembuka Pater David menyinggung soal urgensi lokakarya ini. “Lokakarya ini menjadi kesempatan yang sangat penting, sebab kami di sini (prodi SEP) masih sangat baru. Kurikulum yang ada harus ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan kebutuhan institusi maupun untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” demikian kata mantan Ketua STIKES St. Paulus ini. Lokakarya yang menghadirkan  Ir. D. Roy Nendissa, MP sebagai narasumber ini dihadiri oleh semua dosen SEP dan juga beberapa dosen dari Prodi Agronomi.

Prodi Harus Punya Karakter Khas

Dalam satu sesi pemaparan materi, narasumber menyinggung pentingnya mendesain prodi dengan karakter yang khas. Prodi SEP di Unika St. Paulus Ruteng harus beda dengan SEP di kampus-kampus lain. Ia mengangkat contoh, Faperta Undana memiliki ciri khas tersendiri yakni pertanian lahan kering. Mantan Dekan Faperta Undana periode 2003 – 2007 ini mengatakan, “orang-orang yang mau belajar pertanian lahan kering pasti akan memilih Faperta Undana. Demikian juga SEP Unika St. Paulus Ruteng, harus punya karakter khas yang akan menjadi keahliannya. Mungkin mau fokus pada manajemen perkebunan kopi atau budidaya hortikultura, sehingga semua orang yang mau belajar tentang manajemen perkebunan kopi atau hortikultura pasti larinya ke Unika St. Paulus Ruteng.” Lebih lanjut, Doktor alumnus Universitas Brawijaya Malang ini menegaskan bahwa karakter khas prodi tersebut harus tertuang dalam kurikulm, mulai dari Visi-Misi, tujuan hingga bahan kajian mata kuliah.

Baca Juga: Memeriahkan HUT Ke 60 Unika Santu Paulus Ruteng Menyelanggaran Turnamen Yaspar Cap dan Rektor Cap

Menanggapi hal ini, Kaprodi SEP, Ronaldus Don Piran, MP., mengakui bahwa kurikulum yang ada saat ini belum menunjukkan ciri khas seperti yang disampaikan narasumber. Menurutnya tentu sangat penting untuk membangun karakter prodi ini berbasis potensi pertanian daerah. Ia katakan “kita perlu merumuskan karakteristik ini melalui studi-studi potensi daerah dan juga kebutuhan masyarakat. Jika suda memastikan hal tersebut, maka konsekuensinya beberapa mata kuliah harus disesuaikan dengan kebutuhan itu.”

Dari SEP ke Agribisnis.

Dalam sesi lain, narasumber juga mengingatkan lokakarya ini mengingatkan pentingnya memperhatikan kembali nomenklatur terbaru tentang penamaan prodi. Nendissa menyinggung tentang Keputusan Dirjen Belmawa No. 47 Tahun2019 tentang Daftar Nama Program Studi yang merupakan implementasi permenristekdikti No.33 Tahun 2018 tentang Penamaan Program Studi, dan Keputusan Menristekdikti No. 57 Tahun 2019 Tentang Nama Program Studi Pada Perguruan Tinggi. Dalam lampiran 1 keputusan Dirjen Belmawa tersebut, untuk jenjang S1 tidak ada lagi prodi Sosial Ekonomi Pertanian. Pakar Ekonomi Pertanian ini menganjurkan Fakultas mempertimbangkan untuk mengubah nama prodi SEP menjadi agribisnis. Ia katakan “semuanya tergantung Kampus. Tapi jika dimungkinkan sebaiknya Agribisnis.” Salah satu pertimbangannya adalah pada saat lulusan kita hendak mengikuti seleksi CPNS, bisa saja tidak akan ditemukan formasi untuk tamatan SEP, yang dibutuhkan adalah Agribisnis, karena Menpan-RB akan merujuk pada regulasi yang berlaku. Selain alasan itu, Nendissa menilai bahwa mata kuliah yang sekarang ini ada di SEP semuanya mengarah ke prodi agribisnis.

RPS adalah refleksi dari Kurikulum

Lokakarya kurikulum ini menghasilkan beberapa hal diantaranya revisi distribusi beberapa mata kuliah. Revisi distribusi ini berpatokan pada kedalaman bahan kajian, serta tipe beberapa mata kuliah yang adalah mata kuliah prasyarat. selain pendistribusian mata kuliah, lokakarya ini juga merevisi bahan kajian beberapa mata kuliah agar sesuai dengan kebutuhan dan untuk mengantisipasi karakteristik prodi. Pada pertemuan terakhir, peserta lokakarya dituntun untuk mendalami penyusunan RPS. Penekanannya ada pada muatan RPS yang harus mencerminkan isi kurikulum itu sendiri. Semua bagian RPS harus menunjukkan apa yang mesti dicapai oleh mahasiswa dalam setiap proses belajarnya.

Baca Juga: Refleksi: Prodi Sosial Ekonomi Pertanian Unika Santu Paulus Ruteng Harus Hasilkan Petani-Petani Muda

Hadirnya narasumber dari Faperta Undana Kupang dalam lokakarya ini merupakan implementasi dari MoU antara prodi SEP dengan Faperta Undana Kupang yang ditandatangani pada 13 September 2019. Bagi Prodi SEP, kegiatan lokakarya kurikulum ini akan ditindaklanjuti dalam kelompok kerja kurikulum tingkat prodi.  Kelompok kerja ini akan fokus pada revisi kurikulum, pembentukan mata kuliah penciri prodi, hingga penyusunan RPS. (Kontributor: Utama; publish/Admin )

Leave a Reply

Your email address will not be published.

x

Check Also

Jelang Liburan Nataru, Rektor Unika Ruteng Sampaikan Pesan Natal Tahun 2023

Ruteng, Unika Santu Paulus – Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng menyampaikan Pesan ...